Rabu, 16 Maret 2011

wanita takut menjadi wanita

Ketika Rosulullah berkata:
“Tidak ada yang lebih aku khawatirkan setelah kematianku kecuali urusan 
wanita.”
Seketika itu aku takut menjadi wanita.


Ketika Bukhori meriwayatkan bahwa:
“Hamba yang paling banyak menghuni neraka adalah dari jenis wanita.”
Seketika itu aku takut menjadi wanita.


Ketika Umar ra. berkata:
“Aku lebih baik berjalan dibelakang singa dari pada dibelakang wanita.”
Seketika itu aku takut menjadi wanita.


Ketika aku membaca terjemahan Al-Quran, kutemukan tulisan:
“Dijadikan indah dalam pandangan manusia, kecintaan terhadap 
wanita-wanita, sawah ladang, dan binatang peliharaan dari jenis kuda 
pilihan…”
Muncul sebuah pertanyaan, mengapa yang pertama kali disebutkan sebagai 
sebab timbulnya kecintaan pada dunia adalah wanita? Memang wanita 
sebegitu membahayakannya? Seketika itu aku takut menjadi wanita.


Ketika berada dalam sebuah bis aku mendengar sebuah lagu yang 
dinyanyikan dengan sangat keras, di antara liriknya terdapat kalimat: 
“Wanita racun dunia.”
Hatiku perih saat mendengarnya dan ada kemarahan yang tertahan.


Ketika mendengar ceramah, aku mendengar seorang ustadz pernah berkata:
“Ada
tiga ‘ta’ yang bisa menghancurkan seorang laki-laki yang beriman, 
yaitu: harta, tahta dan wanita.”
Seketika itu aku langsung membenamkan kepalaku. Tertunduk malu dan 
beristighfar. Mutiara dikelopak mataku hampir jatuh...


Aku pernah membaca dalam sebuah buku. Entahlah apa judulnya dan siapa 
pengarangnya. Aku lupa! Tapi aku masih ingat kata-katanya kurang lebih 
seperti ini:
“Wanita adalah fitnah yang diciptakan dengan penuh keindahan. Ketika dia
melangkahkan kaki keluar rumah maka syetan-syetan akan mengelilingi dan
selalu mengikuti ke manapun dia pergi. Syetan memasang perangkap 
dibalik keindahannya untuk menjerat laki-laki yang memiliki penyakit 
hati.”
Seketika itu aku menjadi takut keluar rumah


Aku pernah mendengar ada kisah di zaman jahiliyah tentang penguburan 
bayi-bayi perempuan. Mereka dikubur karena dianggap menjadi aib 
keluarga. Ada
kisah bahwa wanita dianggap sebagai makhluk kelas dua yang
hanya bisa menyusahkan, mempunyai intelektual yang terbatas atau bahkan
pernah diragukan sebagai manusia. Oleh karena itulah wanita pernah 
dikatakan sebagai makhluk setengah manusia.


Aku juga pernah mendengar bagaimana kisah seorang Cleopatra bisa 
menghancurkan dua negara dalam sekejab. Lantaran para raja kedua negara 
tersebut berperang untuk merebut hati Sang Wanita Pujaan. 


Ini hanya sebagian kecil dari kisah-kisah yang pernah ku dengar. Ada

banyak kisah lain yang menambah deretan panjang sejarah kelam tentang 
wanita. Dan sebagaian besar kisah-kisah itu membuatku takut menjadi 
seorang wanita.


Sekarang aku benar-benar telah menjatuhkan mutiara dari mataku dan 
setengah menjerit. Aku ingin protes!
“Allah, mengapa begitu berat menjadi seorang wanita. Jika aku bisa 
memilih, maka aku akan memilih untuk menjadi laki-laki saja. Robb, aku 
takut menjadi wanita. Benar-benar takut.”


Aku tertunduk lesu dalam kebingunggan yang kian menjadi. Seketika itu 
aku mendengar Rosulullah berkata:
“Wanita adalah tiang negara. Jika baik wanitanya maka akan baik pula 
negara itu. Jika buruk wanitanya maka buruklah negara itu.”


Ada
lagi pepatah Arab yang mengatakan:
“Di balik seorang pahlawan besar selalu ada sorang wanita agung.”
Bibirku mengembang, dan ada rasa bangga yang tiba-tiba menyelinap hadir.


Aku pernah mendengar bahwa:
“Ibu adalah sekolah pertama.”Aku kembali tersenyum. Resah itu mulai 
berkurang.
“Aku harus menjadi wanita yang bisa membangun peradaban. Aku harus 
menjadi ibu yang bisa melahirkan generasi yang dirindukan zaman.” 
Azzamku menjadi bulat yang utuh.


Aku juga pernah membaca sebuah hadits:
“Syurga itu di bawah tepalak kaki ibu.”


Seorang pemuda pernah pertanya kepada Rosulullah: 
“Kepada siapakah yang paling utama aku harus berbakti, ya Rosulullah”
“kepada ibumu”jawab Rosulullah.
“Lalu kepada siapa lagi ya Rosulullah?” tanya pemuda itu kembali.
“Ibumu”
“Lalu kepada siapa lagi ya Rosulullah?”
“Ibumu”
“Lalu kepada siapa lagi ya Rosulullah?”
“Ayahmu”


Ketika ditanya tentang kepada siapakah yang paling utama seseorang harus
berbuat baik. Rosulullah tanpa ragu sedikitpun menjawab “kepada ibumu” 
dan itu berlangsung tiga kali berturut-turut. Hal ini menunjukkan betapa
itu adalah hal yang utama. Ini membuktikan betapa islam memuliakan 
seorang wanita.


Di hadits yang lain Rosulullah pernah berkata:
“Sebaik-baik laki-laki adalah yang paling baik kepada wanita.”
Begitu indahnya islam menempatkan wanita.
Hasan Al-Banna pernah berkata, "wanita itu, tangan kanannya menggoyang 
ayunan. Sedangkan tangan kirinya mengguncang dunia." Subhanallah. 
Dahsyatnya! Bisakah kita menjadi wanita yang seperti itu.


Dilain waktu Muslim pernah meriwayatkan bahwa:
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita 
sholehah”
“Yups! Aku harus menjadi wanita sholehah agar bisa memperindah dunia.”


Aku memang mendengar begitu banyak kisah yang “menakutkan” tentang 
wanita tapi aku juga mendengar kisah-kisah yang membanggakan. Ada kisah 
Aisyah yang sangat cerdas, kisah Asma yang pemberani, kisah Fatimah yang
tekun dan penyayang, kisah Khodijah Sang bisnis women yang sukses, 
kisah Sumayyah Sang Syahidah pertama dan masih banyak lagi. Di negeriku 
ada Kartini yang anggun dan cerdas, ada Cut Nyak Dien yang tegas dan 
memberani, dan seterusnya. Sekarang dengan penuh keyakinan dan kesadaran
aku ingin berkata:

"DEMI ALLAH, AKU BANGGA MENJADI WANITA."


Selamat menjadi wanita mulia yang memuliakan, Wanita yang membawa cahaya
pencerahan. Siapkan diri untuk menyambut peran itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar